Prosa

Kembalikan Hijauku

 

Berarak-arak

awan bergerak,

angin dan musim serempak.

Menaburkan hujan, udara dan seloka

menumbuhkan benih dan kasih.

Hijaulah tanah pusaka nusantara;

Negeri cintaku, zamrud katulistiwa

 

Bersorak-sorak

kehidupan semarak,

mendulang kebutuhan paling dasar.

Sepanjang sungai-sungai kesaling-tergantungan

Hanyut dalam misi dan tujuan

Atas mahluk dan ekosistemnya,

manusia dan budayanya.

Dimanapun muka bumi, – hijaunya – ibu pertiwi

 

Berjarak-jarak

Zaman merangkak

berjubah waktu generasi baru,

Bangsa tropis, menapis dunia

membanding sumberdaya dan wacana

Ternyata kita, mendapat berokah yang megah

sinar mentari, energi sampai nutrisi

terkemas dalam tradisi, kreasi, dan investasi

Itulah negeriku elok hijau – di mata manca negara.

 

Bersyukurlah kita

Anugerah hijaunya negeriku

paru-paru dunia

benar-benar tiada tara

 

Namun kini:

Bersesak-sesak

perubahan mendesak,

mengeser perilaku dan jati-diri.

Tanpa sadar hijauku memar memudar,

oleh emosi, kompetisi, dan modernisasi.

Dan,

Berarak-arak

ribuan tanya menyontak,

Apakah ini bencana yang bakal abadi (?)

sebagai paradoks pembangunan;

Akibat ketimpangan dan serampangan

juga sikap yang gampangan

tanpa belajar makan garam.

Duhai,

Berdecak-decak

gita-cinta mengajak.

Bangunlah, hai segenap jiwa yang terlena

buang malasmu, lestarikan lingkungmu!

Seluas ruang-ruang riuh kehidupan

Sepenuh kebijakan dan kebijaksanaan

dari bangku kuliah, mesin industri, sampai meja menteri

Kembalikan desaku dan negeriku

hijau di mata, hijau di hati

 

Green empathy

Green strategy

Green policy, and

Green economy

Bogor, 21 April 2016

Dr. drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, MSi