Isu lingkungan belakangan ini menjadi pokok bahasan serius yang terus dicari solusi. Salah satu isu lingkungan yang banyak menyorot perhatian adalah penggunaan plastik. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Indonesia Green Action Forum (IGAF) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bergerak di bidang lingkungan, mengadakan Open Discussion yang merupakan rangkaian dari acara ISEW (IPB Sustainable Environmental Week), di Kampus IPB Dramaga, Bogor (31/3).

Open Discussion ini diisi oleh dua pembicara yaitu Prof. Dr. Ir. Etty Riani, dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, yang juga ahli dalam bidang toksik. Selain Prof. Etty, Renny Widyanti selaku perwakilan dari Earth Hour Bogor ikut serta memberikan pandangannya terhadap pengunaan sampah plastik.
 
Prof. Etty memaparkan isu lingkungan yang sedang ramai diperbincangkan belakangan ini, yaitu sampah plastik. “Masalahnya adalah sampah plastik ini bukan hanya sekedar sampah. Banyak bahan berbahaya beracun terkandung dalam plastik. Bahan dasar plastik juga sama dengan minyak bumi. Seperti yang diketahui, bahwa bahan-bahan dari minyak bumi banyak ditemukan bahan bersifat karsinogenik (memicu penyakit kanker). Komponen dari plastik bersifat labil sehingga mudah untuk berpindah-pindah, dan inilah yang akan menjadikan plastik bersifat toksik untuk bahan makanan berbungkus plastik,” tutur Prof. Etty.
 
Namun, lanjut Prof. Etty, tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan masyarakat saat ini tidak bisa dipisahkan dari plastik. Sifatnya yang mudah diatur sesuai dengan kebutuhan pasar menjadikan plastik sebagai bahan yang disukai, selain harganya yang lebih murah daripada bahan lain.
 
“Meski begitu, sebagai mahasiswa, yang telah mengerti bahaya plastik, harus bijak memakai plastik. Gunakan plastik secara efisien dengan cara mengurangi atau memakai kembali plastik tersebut. Plastik sulit untuk diuraikan, namun jika sudah terurai akan mengalir ke laut dan menjadi marine debris atau sampah laut. Nanti termakan oleh ikan dan ikan itu kita makan. Pada akhirnya, manusia juga yang terkena dampak sampah plastik,” tutur Prof. Etty.
 
Berbeda dengan Prof. Etty yang menyampaikan dari sisi toksisitas plastik terhadap makhluk hidup, Renny membahas dampak sampah plastik terhadap lingkungan dan sosial. Menurut data Dinas Kebersihan Kota Bogor, tutur Renny, per harinya Kota Bogor menghasilkan 600 ton sampah. Dari jumlah itu, sebanyak tiga persen berasal dari kantong plastik dan 10 persen berasal dari sampah plastik lainnya. Jumlah ini sangat besar sampah yang tak bisa dengan mudah diuraikan.
 
“Peraturan baru di Kota Bogor yaitu tidak disediakannya kantong plastik pada beberapa ritel besar. Hasilnya, sampah kantong plastik berkurang dua sampai lima persen dari jumlah awalnya,” jelas Renny. Renny juga memberi dorongan pada mahasiswa agar secara perlahan mengganti plastik dengan bahan yang dapat digunakan terus menerus, seperti membawa tumbler, kotak makan, dan selalu membawa totebag.
 

Acara dilanjutkan dengan pembentukan empat kelompok diskusi mahasiswa yang diberi tema berbeda-beda. Salah satu tema yang menjadi bahan diskusi adalah kondisi kantin di kampus IPB yang masih menggunakan banyak plastik. Mahasiswa berpendapat, bahwa penempatan galon air minum untuk mengisi ulang air dapat mengurangi sampah botol plastik dan regulasi antara mahasiswa dengan lembaga lebih tinggi di IPB sangat diperlukan untuk kelangsungan pengunaan sampah plastik di kampus. (ASK/Zul)