Sebagai perwujudan dari Green Campus, IPB akan segera mengelola sampah yang ada di lingkungan IPB yang berpeluang menjadi potensi bisnis. Saat ini sampah-sampah kita belum dikelola menjadi suatu peluang dan potensi bisnis. Padahal jika dikelola dengan baik, bisa menjadi potensi bisnis yang luar biasa, ujar Dr. Roza Yusfiandayani, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB yang diamanahi rektor untuk menjadi Ketua Tim Green Environment IPB.

Baru-baru ini telah dibentuk Tim Green Environment IPB atas inisiatif Forum Dosen IPB. Pada tiap fakultas memiliki dua Satgas yang terdiri dari dosen-dosen muda IPB. Tugas ini merupakan kerja bareng. Tidak mungkin bisa bekerja sendiri tanpa dukungan unit lain, imbuhnya.

Ia mengatakan, untuk keberhasilan Green Environment ini, pihaknya akan bersinergi dengan Green Movement IPB yang diinisiasi oleh mahasiswa.

Kaitannya dengan Green Environment, Roza menyampaikan target pertama yang akan dilakukan adalah bagaimana kita bisa melakukan tiga hal, yaitu sampah hari ini, diolah hari ini, habis hari ini. Saat ini diakuinya bahwa di tempat pembuangan akhir (TPA) belum ada pemisahan sampah, meskipun di tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada di lingkungan IPB telah dipisahkan. Saat ini IPB memiliki sekira 66 TPS.

Selain itu, Roza menambahkan dalam waktu dekat ia ingin mewujudkan adanya tempat pemisahan jenis sampah seperti halnya yang telah ada di TPS-TPS untuk di TPA IPB sekaligus untuk mengolah sampah menjadi zero waste. Karenanya, ungkap Roza, di TPA harus ada pelaku yang siap menerima sampah yang datang dari seluruh lingkungan kampus untuk diolah. Hasil olahan bisa menjadi beberapa produk, misalnya dari produk sampah organik bisa menjadi pupuk, dari sampah plastik bisa menjadi aneka produk daur ulang seperti tas, kantong plastik, dompet dan lain sebagainya.Bagan

Selain itu yang perlu segera dilakukan adalah melaksanakan pelatihan untuk para cleaning service di IPB. Mereka harus dilatih supaya punya pengetahuan bagaimana mengelola sampah yang baik dan benar. Memberikan pemahaman budaya bersih secara kontinyu harus terus dilakukan ke mahasiswa, tidak hanya di lingkungan kampus juga untuk lingkungan luar kampus seperti kos-kosan dan kantin.

 

Ke depan, Roza berencana ingin menjadikan GC benchmarking IPB. Misalnya dosen jika akan mengajar bisa menyisipkan logo atau tulisan terkait Green Campus di setiap sudut power point atau pun presentasinya. Tidak hanya akan dilihat pada saat mengajar juga bisa dipakai pada saat ada kunjungan pejabat dan tamu IPB. Sehingga GC akan benar-benar melekat dalam setiap pikiran mahasiswa dan tamu IPB. (dh)