Institut Pertanian Bogor (IPB) belum lama ini mencanangkan konsep Green Campus. Sejak 1 Maret 2016, Green Transportation, salah satu elemen IPB Green Campus secara penuh diimplementasikan. Namun konsep ini masih menuai pro-kontra di kalangan civitas IPB dan masyarakat sekitar kampus. Respon akan konsep Green Campus ini, salah satunya meluncur dari Guru Besar Bidang  Manajemen dan Ekologi Lanskap di Arsitektur Lanskap IPB, Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin.

Beliau mengaku pro dengan konsep green campus, tetapi harus mulai ditegakkan lebih dahulu dari kegiatan-kegiatan di dalam IPB (internal) yang dijalankan oleh civitas akademika. Misalnya, harus ada komitmen dengan konsekuensi dari awal bahwa mahasiswa dan dosen pun harus parkir di tempat yang telah disediakan. Jadi konsep ini tidak hanya semata-mata simbolik dan bukan semata show off untuk green image/green colour saja, melainkan suatu konsep yang menunjukkan kehidupan ramah lingkungan.

Menurutnya ada 3 prinsip untuk mewujudkan konsep green, yaitu saving land, saving material, dan saving energy (3S). Pertama, saving land atau hemat lahan artinya memanfaatkan lahan secara efektif dan efisien, misalnya bangunan dibuat bertingkat dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang rendah.

Seharusnya kita belajar dari kearifan lokal masyarakat adat dari suku bangsa di Indonesia. Misalnya, mereka sudah menerapkan prinsip ini dengan membangun rumah panggung. Selain KDB yang kecil juga ada ruang multi guna. Bagian atas digunakan untuk ruang huni dan di bawahnya digunakan untuk gudang atau fungsi lainnya tandasnya.

Prinsip yang kedua adalah saving material atau hemat bahan. Prinsip ini mengarahkan kita untuk memanfaatkan bahan-bahan lokal. Misalnya penggunaan marmer asli Lampung dibandingkan dengan marmer Italia. Contoh lain adalah menerapkan konsep 5R (reduce, reuse, recycle, reform, dan replant), serta memanfaatkan kertas untuk dipakai bolak-balik, dan menggunakan amplop bekas untuk surat-menyurat secara internal.

Prinsip yang ketiga adalah saving energy atau hemat energi. Artinya meminimalkan penggunaan energi, salah satunya adalah listrik. Contoh kecil yang bisa dilakukan adalah mematikan AC saat sudah sejuk atau mematikan lampu jika ruangan sudah tidak digunakan. Misalnya, lampu koridor dan teras dinyalakan saat matahari jelang tenggelam dan dimatikan saat terbit. Tidak hanya itu, hal-hal kecil yang bisa dilakukan adalah menampung air AC yang kemudian digunakan untuk menyiram tanaman.

Ketiga prinsip ini sebenarnya bisa diimplementasikan di kampus IPB. Asalkan seluruh civitas IPB termasuk warga lingkar kampus mau melakukan movement menuju kehidupan yang ramah lingkungan. Sekali lagi, hal ini dilakukan mulai dari internal dengan membiasakan diri dan komitmen terhadap prinsip 3S tersebut. (IM)