Category

Green Movement

Green Movement, Green People

Tujuh Pemuda Jaga Laut IPB University Bersihkan Sampah Laut di Pulau Pramuka

Marine Science and Technology Diving School (MSTDS) IPB University dan EcoNusa gelar kegiatan Pemuda Jaga Laut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, awal bulan ini. Kegiatan pembersihan laut (Underwater Cleanup) ini diikuti oleh tujuh mahasiswa IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di bawah bimbingan Beginer Subhan, SPi, MSi dan Dondy Arafat, SPi, MSi.
 
“Mereka melakukan monitoring underwater debris menggunakan NAVATIC underwatre drone untuk melihat kondisi sebaran sampah sepanjang dermaga Pulau Pramuka. Hasil pengamatan menunjukkan sebaran sampah di Dermaga Pulau Pramuka lebih padat dibanding sampah di site penyelaman sebelumnya. Sebaran sampah di Dermaga Pulau Pramuka didominasi oleh sampah rumah tangga seperti sampah detergen dan kemasan makanan ringan. Sedangkan sebaran sampah di site dive terbilang sedikit dan didominasi oleh sampah botol plastik dan pipa PVC,” ujar Beginner.
 
Menurut Beginner, kegiatan Underwater Clean Up ini sangat baik untuk melatih jiwa sosial dan peduli lingkungan bagi para pemuda umumnya serta khususnya bagi mahasiswa komunitas selam IPB University. Selain itu kegiatan ini merupakan implementasi dari SDG’s ke 14 yaitu life below water.
 
Sementara itu, Dondy Arafat mengatakan bahwa hasil pendataan ini dapat dijadikan informasi ke masyarakat Pulau Pramuka guna menyadari dampak yang akan terjadi. Dimana sampah sudah over load di wilayah ekosistem wisata yang dijadikan tempat kegiatan ekonomi utama masyarakat pulau. Hasil pendataan sampah juga dapat dijadikan acuan informasi perkembangan sebaran sampah jika dilakukan pendataan sebaran sampah di tahun selanjutnya untuk evaluasi.
 
Viktor, Ketua Pelaksana Pemuda Jaga Laut juga mengatakan bahwa Underwater Clean Up merupakan kegiatan penting bagi pemuda sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Sampah plastik sangat sulit terurai di laut bahkan akan menjadi mikroplastik yang berbahaya bagi biota laut dan mengancam kesehatan biota tersebut. (**/Zul)
 
Keyword: Pulau Pramuka, Sampah, Laut, FPIK, IPB University
 
Original article:
https://kumparan.com/news-release-ipb/tujuh-pemuda-jaga-laut-ipb-university-bersihkan-sampah-laut-di-pulau-pramuka-1uYmx4i10ei/full
 
Related Article:
https://bogor-kita.com/tujuh-mahasiswa-ipb-bersihkan-sampah-laut-di-kepulauan-seribu/
Green Building, Green Movement, Green People

Inovasi Sumur Resapan Bijak Berplastik Hasil Kolaborasi IPB University dan Danone AQUA Resmi Diluncurkan

Plastik non ekonomis atau jenis plastik dengan nilai ekonomi rendah seperti kresek hitam, alumunium sachet, diapers serta alumunium foil masih menjadi tantangan bagi pengelolaan sampah  di Indonesia. Sebab, jenis plastik tersebut tidak memiliki banyak pilihan jalur daur ulang sehingga akhirnya dibiarkan menumpuk menjadi pencemar lingkungan. Dalam webinar Inovasi Konservasi Air, Kamis (22/10), Danone AQUA mendukung IPB University dan PT Oriplus meluncurkan Sumur Resapan Bijak Berplastik (Biber).

Inovasi sumur resapan yang bahan utamanya berasal dari plastik non ekonomis tersebut dinilai dapat mengurangi risiko banjir. Biber mencegah air hujan menjadi run off serta bermanfaat sebagai alat konstruksi sumur untuk menampung candangan air tanah sekaligus solusi penanganan lastik non ekonomis.

Launching Sumur Resapan Biber tersebut digelar untuk memperkenalkan sumur resapan sebagai langkah melakukan konservasi air dan pengelolaan sampah plastik non ekonomis serta menginspirasi publik agar membuat kolaborasi solutif untuk menyelesaikan  permasalahan lingkungan di Indonesia. Dan juga untuk menginsipirasi pemerintah daerah untuk menjadikan sumur tersebut sebagai alat konservasi terutama di daerah urban.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria dalam sambutannya mengatakan bahwa sumur resapan Biber karya dari Dr Nana Mulyana, peneliti IPB University dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) ini diharapkan dapat diimplemetasikan di berbagai kota di Indonesia. Terutama saat ini, dimana musim hujan mulai menghampiri dan risiko banjir tentu akan meningkat.

Dr Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga mengatakan dalam sambutannya bahwa masalah lingkungan hidup merupakan masalah bersama sehingga perlu sinergi dari semua stakeholder. “IPB University telah dikenal sebagai salah satu pelopor Green Campus di Indonesia dan memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem lingkungan di sekitar kampus bahkan di lingkungan luar kampus, ” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, “Salah satu langkah nyata IPB University dalam pengabdian kepada masyarakat adalah sumur resapan Biber ini yang dapat dijadikan sebagai bentuk penguatan barang ekonomi yang tepat guna sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam,” ujarnya.

Pemerintah daerah menyambut gembira atas peresmian inovasi sumur Biber tersebut karena menjadi jawaban terhadap masalah banjir, ekonomi, dan pengelolaan sampah yang buruk. Iwan Setiawan, selaku selaku Wakil Bupati Bogor berharap sumur resapan Biber tersebut dapat diaplikasikan pada beberapa titik wilayah yang rawan banjir dan kekurangan cadangan air bersih serta dapat membangun budaya daur ulang di masyarakat.

“Dengan adanya program inovasi ini mudah-mudahan bisa bermanfaat secara optimal untuk mendorong kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan di Kabupaten Bogor,” ungkap Iwan.

Vera Galuh, VP General Secretary Danone Indonesia mengatakan bahwa per tahunnya, Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik. Sembilan persennya termasuk sampah non ekonomis yang berakhir di sungai. Maka penting adanya bagi para stakeholder untuk saling menjalin kolaborasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan untuk mengembangkan solusi yang inovatif untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup.
Sejalan dengan visi Danone, yaitu One Planet One Health, ia percaya bahwa kesehatan manusia akan hadir dari lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari gerakan Bijak Berplastik yang telah diiniasi sejak tahun 2018, kolaborasi dengan IPB University dan PT Oriplus dapat menjawab tantangan berat bersama serta upaya konservasi air. Rencananya, pada tahap pertama ini, sumur resapan Biber tersebut akan dikirimkan ke KLHK sebanyak 10 buah, Pemprov DKI Jakarta sebanyak 5 buah, Pemprov Jawa Barat sebanyak 5 buah, Istana Bogor sebanyak 5 buah, Istana Cipanas sebanyak  5 buah, Pemerintah Kabupaten Bogor 3 buah, Pemerintah Kota Bogor 3 buah serta  IPB University sebanyak 3 buah.

“Tidak berhenti di situ, tentunya sebagai salah satu kolaborator dalam inisiatif sumur resapan bijak berplastik ini, Danone AQUA juga  berkomitmen untuk terus menggunakan juga sumur resapan bijak berplastik yang sama pada 26 pabrik danone di Indonesia mulai tahun 2021-2025,” tuturnya.

Inovasi tersebut dapat dijadikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut turut serta dalam pelaksanaanya jika dinisiasi terlebih dulu oleh Pemerintah Pusat serta Daerah agar diketahui oleh masyarakat luas sebagai solusi permasalahan lingkungan bila dibarengi disipilin dan penggunaan air dengan baik. Di samping itu, dapat juga menjawab permasalahan ekonomi masyaralat karena dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

“Sumur bijak berplastik yang dikembangkan IPB University dan Danone ini betul-betul menjawab tiga isu tadi. Saya pikir ini akan menjadi menarik untuk diterapkan dan dilaksanakan secara masif,” tutur Dr Nana Mulyana. (MW/Zul)

Original article:

https://ipb.ac.id/news/index/2020/10/inovasi-sumur-resapan-bijak-berplastik-hasil-kolaborasi-ipb-university-dan-danone-aqua-resmi-diluncurkan/394c64f666a00fea53423c5acd4d24e2

Video disini

Green Movement, Green People

CTSS IPB University Dorong Anak Muda Buka Isolasi Desa, Jadikan Desa sebagai Tambang Emas Berkarir

Center for Transdisciplinary an Sustainability Science, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (CTSS LPPM) IPB University mendorong anak-anak muda Indonesia untuk membuka isolasi desa dan menjadikan desa sebagai tambang emas berkarir. Hal ini terungkap dalam Graduate Student Monthly Sustainability Seminar ke-7 yang belum lama ini digelar.  Seminar yang dilakukan secara daring ini membahas tentang Spedagi Movement untuk Era Kehidupan Baru COVID-19.

Dr Neviaty P Zamani, dosen IPB University yang juga Head of Outreach and Capacity Building, CTSS IPB University yang menjadi moderator acara  menjelaskan kegiatan seminar daring ini dimaksudkan untuk membuka wawasan dan motivasi mahasiswa pasca dalam pengembangan karir ke depan dengan menjadikan kawasan pedesaan sebagai salah satu  peluang yang menjanjikan untuk dijajaki di era kehidupan baru COVID-19. Topik pembangunan desa dipilih karena saat ini Indonesia memiliki 74.954 desa. Di era keterbukaan informasi yang sudah menjangkau pedesaan, merupakan suatu peluang kerja yang menjanjikan dengan mengembangkan potensi yang ada di pedesaan dan mengangkatnya ke kancah global/internasional melalui berbagai media informasi.  Isolasi pedesaan harus dibuka, tapi tetap dengan mempertahankan keasrian dan kenyemanan suasana pedesaan.

Topik yang diangkat CTSS kali ini yaitu “Spedagi Movement untuk Era Kehidupan Baru” diharapkan dapat membuka wawasan dan motivasi mahasiswa pasca untuk berinovasi dalam pembangunan pedesaan dan membuka isolasi pedesaan, sehingga generasi muda Indonesia ke depan akan melihat desa adalah tambang emas dalam membangun karir mereka. Dalam pembangunan desa, lanjut Neviaty, harus tetap memperhatikan potensi desa masing-masing karena setiap desa memiliki kekhasan sendiri. Pembangunan desa juga disarankan tidak boleh berlebihan dan tidak berpacu pada konsep materialistik yang berdampak pada masstourism yang berpotensi menghancurkan potensi desa.

Singgih Susilo Kartono dihadirkan untuk memaparkan pengalamannya dalam membangun karir di pedesaan, dengan membuka isolasi pedesaan tanpa mengubah kaidah-kaidah kehidupan pedesaan, namun dapat membawa citra pedesaan ke dunia internasional. Perjalanan kehidupan Singgih sangat menarik untuk pembelajaran bagi mahasiswa pasca dalam menyiapkan diri setelah tamat untuk terjun di tengah masyarakat.

Ketahanan pedesaan juga terbukti di era COVID-19, dimana Singgih menjelaskan berbagai kekacauan di dunia saat ini tidak terlalu besar dampaknya terhadap pedesaan.

Lebih lanjut Singgih menerangkan dalam berbagai krisis seperti krisis yang terjadi saat ini, desa tidak sepenuhnya terkena dampak. Dengan kata lain, desa seperti menjadi buffer bagi krisis yang terjadi secara besar-besaran terutama krisis yang terjadi di perkotaan.

Melihat fenomena ini dan inspirasi dari ramalan Alvin Covler pada buku Future Shock, Singgih memberanikan diri kembali ke kampung halamannya setelah menamatkan studi sarjana di Bandung. Di kampungnya, ia membuktikan potensi desa yang luar biasa dengan produk-produk lokal. Keprihatinannya terhadap potensi desa itu mendorong Singgih untuk melahirkan Spedagi (Sepeda Pagi), yaitu sebuah gerakan revitalisasi desa dengan icon sepeda bambu.
Di samping itu, ia juga berhasil menghasilkan sebuah pemikiran yang bernama cyral spiriterial.

“Cyral Spiriterial adalah sebuah skenario yang saya susun untuk menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang seharusnya kita (masyarakat dunia) lakukan jika kita ingin mewujudkan cita-cita keberlanjutan kehidupan global,” kata Singgih.
(RA)

Original article: 

https://ipb.ac.id/news/index/2020/08/ctss-ipb-university-dorong-anak-muda-buka-isolasi-desa-jadikan-desa-sebagai-tambang-emas-berkarir/a3d41e597251ad35da813e949d5665cf

<-- jasa pembuatan website -->