Center for Transdisciplinary an Sustainability Science, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (CTSS LPPM) IPB University mendorong anak-anak muda Indonesia untuk membuka isolasi desa dan menjadikan desa sebagai tambang emas berkarir. Hal ini terungkap dalam Graduate Student Monthly Sustainability Seminar ke-7 yang belum lama ini digelar.  Seminar yang dilakukan secara daring ini membahas tentang Spedagi Movement untuk Era Kehidupan Baru COVID-19.

Dr Neviaty P Zamani, dosen IPB University yang juga Head of Outreach and Capacity Building, CTSS IPB University yang menjadi moderator acara  menjelaskan kegiatan seminar daring ini dimaksudkan untuk membuka wawasan dan motivasi mahasiswa pasca dalam pengembangan karir ke depan dengan menjadikan kawasan pedesaan sebagai salah satu  peluang yang menjanjikan untuk dijajaki di era kehidupan baru COVID-19. Topik pembangunan desa dipilih karena saat ini Indonesia memiliki 74.954 desa. Di era keterbukaan informasi yang sudah menjangkau pedesaan, merupakan suatu peluang kerja yang menjanjikan dengan mengembangkan potensi yang ada di pedesaan dan mengangkatnya ke kancah global/internasional melalui berbagai media informasi.  Isolasi pedesaan harus dibuka, tapi tetap dengan mempertahankan keasrian dan kenyemanan suasana pedesaan.

Topik yang diangkat CTSS kali ini yaitu “Spedagi Movement untuk Era Kehidupan Baru” diharapkan dapat membuka wawasan dan motivasi mahasiswa pasca untuk berinovasi dalam pembangunan pedesaan dan membuka isolasi pedesaan, sehingga generasi muda Indonesia ke depan akan melihat desa adalah tambang emas dalam membangun karir mereka. Dalam pembangunan desa, lanjut Neviaty, harus tetap memperhatikan potensi desa masing-masing karena setiap desa memiliki kekhasan sendiri. Pembangunan desa juga disarankan tidak boleh berlebihan dan tidak berpacu pada konsep materialistik yang berdampak pada masstourism yang berpotensi menghancurkan potensi desa.

Singgih Susilo Kartono dihadirkan untuk memaparkan pengalamannya dalam membangun karir di pedesaan, dengan membuka isolasi pedesaan tanpa mengubah kaidah-kaidah kehidupan pedesaan, namun dapat membawa citra pedesaan ke dunia internasional. Perjalanan kehidupan Singgih sangat menarik untuk pembelajaran bagi mahasiswa pasca dalam menyiapkan diri setelah tamat untuk terjun di tengah masyarakat.

Ketahanan pedesaan juga terbukti di era COVID-19, dimana Singgih menjelaskan berbagai kekacauan di dunia saat ini tidak terlalu besar dampaknya terhadap pedesaan.

Lebih lanjut Singgih menerangkan dalam berbagai krisis seperti krisis yang terjadi saat ini, desa tidak sepenuhnya terkena dampak. Dengan kata lain, desa seperti menjadi buffer bagi krisis yang terjadi secara besar-besaran terutama krisis yang terjadi di perkotaan.

Melihat fenomena ini dan inspirasi dari ramalan Alvin Covler pada buku Future Shock, Singgih memberanikan diri kembali ke kampung halamannya setelah menamatkan studi sarjana di Bandung. Di kampungnya, ia membuktikan potensi desa yang luar biasa dengan produk-produk lokal. Keprihatinannya terhadap potensi desa itu mendorong Singgih untuk melahirkan Spedagi (Sepeda Pagi), yaitu sebuah gerakan revitalisasi desa dengan icon sepeda bambu.
Di samping itu, ia juga berhasil menghasilkan sebuah pemikiran yang bernama cyral spiriterial.

“Cyral Spiriterial adalah sebuah skenario yang saya susun untuk menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan apa yang seharusnya kita (masyarakat dunia) lakukan jika kita ingin mewujudkan cita-cita keberlanjutan kehidupan global,” kata Singgih.
(RA)

Original article: 

https://ipb.ac.id/news/index/2020/08/ctss-ipb-university-dorong-anak-muda-buka-isolasi-desa-jadikan-desa-sebagai-tambang-emas-berkarir/a3d41e597251ad35da813e949d5665cf