Tag

Green Campus IPB

Green Movement, Green People

Kemandirian dan Ketahanan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal

Perkembangan teknologi membuat gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat berubah. Pangan tradisional yang beraneka ragam sudah mulai menurun konsumsinya di masyarakat. Padahal pangan ini biasanya kaya dengan kandungan gizi yang seimbang. Konsumsi pangan instan justru yang meningkat. Padahal makanan instan mengandung zat lemak yang tinggi yang bisa menyebabkan kelebihan kolesterol. 

“Konsumsi pangan instan mengandung tinggi lemak terutama lemak jenuh, kolesterol dan rendah serat meningkat. Hal ini menyebabkan terjadinya permasalahan kesehatan seperti penyakit obesitas, hipertensi, diabetes dan sindrom metabolik lain. Kondisi ini harusnya bisa diantisipasi,“ ungkap Prof. Clara Meliyanti Koesharto, Guru Besar IPB University bidang Pangan dan Gizi dalam kegitan webinar FEMA WISE (14/7).

Menurutnya upaya antisipasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan pangan yang menyehatkan dalam jumlah cukup dengan menjaga kondisi lingkungan tetap baik. Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman ekosistem pangan. Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan biji dan kacang, 450 jenis buah dan 250 jenis sayur-sayuran. Begitu juga dengan sumberdaya laut yang memilki keanekaragaman yang tinggi.

“Jumlah koleksi sumberdaya genetik badan penelitian dan pengembangan pertanian mencatat, tanaman pangan yang tercatat saat ini adalah sebanyak 5.529, sebanyak 584 buah, bahkan terdapat 4.438 sayur-sayuran. Potensi ini bisa dimaksimalkan lagi dengan riset dan implementasi dalam bentuk kebijakan dan pengembangan produk lokal,” tutup Prof. Clara Meliyanti.

Selanjutnya Dr. Yayuk Farida Baliwati, dosen IPB University sekaligus pakar Manajemen Sumberdaya Pangan dan Gizi mengungkapkan pentingya pangan berbasis sumberdaya lokal. Jumlah penduduk yang terus meningkat harus diimbangi dengan kebutuhan pangan yang cukup. Namun, pemenuhan pangan ini harus melihat pelestarian fungsi dan kualitas sumberdaya alam. 

“Keberlanjutan ekosistem pangan harus memperhatikan penduduk, kesehatan, dan lingkungan hidup baik alam maupun sosial. Tolak ukur keberlanjutan sistem pangan bisa dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas ketersediaan dan konsumsi pangan sesuai dengan kecukupan gizi seimbang. Pangan yang diutamakan adalah pangan lokal untuk mengurangi dampak negatif kerusakan lingkungan,” ungkap Dr Yayuk.

Menurutnya, penting untuk merancang perencanaan pangan berbasis pada pangan lokal. Setiap daerah memiliki sumberdaya yang berbeda dan unik, sehingga tiap daerah harus membuat rancangan sesuai potensi wilayahnya. Harapannya kebutuhan pangan bisa dipenuhi oleh masing-masing daerah sendiri. Tentu saja hal ini memerlukan kerjasama dari seluruh pihak, baik pemerintah, akademisi, dan stakeholder yang lainya. (NA/Zul)

Original article: 

https://ipb.ac.id/news/index/2020/08/kemandirian-dan-ketahanan-pangan-berbasis-sumber-daya-lokal/14219a9a7bcd4b158a0eb4ea183975a2

Green Energy, Green Movement, Green People

Kelembagaan Menjadi Kunci Keberhasilan Green Campus

Pada Forum National Sustainability Leaders Meeting 2020 bertema Menciptakan Sustainability Leaders dalam Transformasi Kampus Berkelanjutan secara online Prof Kitikorn Charmondusit, Ph.D dari Universitas Mahidol, Thailand menjadi pembicara kunci untuk mengurai pengalamannya membentuk kelembagaan kantor berkelanjutan dan kampus hijau di Universitas Mahidol.

Berdasarkan pengalamannya, pemimpin perguruan tinggi harus dapat memberi contoh dalam berperilaku yang ramah lingkungan. Setelah itu, untuk mewujudkan kampus hijau, selain melibatkan semua unsur warga kampus, tentunya harus ada dukungan dana.

Turut hadir juga sebagai pembicara di hari pertama diantaranya Wakil Ketua UIGM, Junaidi, MA, Koordinator UIGM untuk Indonesia sekaligus Wakil Rektor Universitas Diponegoro, Prof Dr Ambariyanto, Kepala Lembaga Pengembangan Institut IPB University, Dr Ernan Rustiadi; Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof Mukri dan sebagai moderator Dr Aceng Hidayat, Sekretaris Institut (SI) IPB University yang juga Ketua Tim Implementasi Green Campus IPB University.

Di hari kedua, peserta memberikan pemaparan hasil workshop sustainability leader oleh tiga kelompok. Dari pemaparan tersebut disimpulkan bahwa meskipun pengelolaan sustainability dan kelembagaan di perguruan tinggi berbeda-beda, semua peserta sepakat tentang pentingnya unit maupun kantor yang bertugas untuk mengkoordinasikan dan menyusun strategi, kebijakan serta program keberlanjutan yang melibatkan semua pemangku kepentingan di perguruan tinggi.

Sementara itu, di akhir sesi, Dr Aceng memberikan kesimpulan bahwa sustainability merupakan hal yang penting bagi setiap perguruan tinggi sebagai wadah untuk mewujudkan konsep kampus ramah lingkungan, yang jadi bagian dari pembangunan berkelanjutan.

“Rujukannya bisa dari pilar SDGs secara internasional dan nasionalnya bisa merujuk ke UI GreenMetric. Kelembagaan ini diperlukan baik organisasi maupun aturan mainnya sehingga memiliki arah dan kepastian yang sama. Adanya UI GreenMetric diharapkan bukan untuk persaingan, melainkan untuk saling belajar dan berusaha mewujudkan kampus yang berkelanjutan,” tutupnya.

<-- jasa pembuatan website -->